Senin, 15 April 2013

implikasi perkmbangan dan pertumbuhan peserta didik

BAB I
PENDAHULUAN

I.         Latar Belakang Masalah
     Dalam segi pendidikan khususnya segi pembelajaran, potensi setiap peserta didik harus benar-benar dipupuk dan dikembangkan sesuai dengan Teori Pieget yang membahas tentang perkembangan kognitif. Maka dari itu kondisi lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan intelektual peserta didik tersebut.
     Pengalaman belajar yang aktif cenderung untuk memajukan perkembangan kognitif, sedangkan pengalaman belajar yang pasif dan hanya menikmati pengalaman orang lain saja akan mempunyai konsekuensi yang minimal terhadap perkembangan kognitif termasuk di dalamnya perkembangan intelektual.
     Usia remaja adalah usia yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif, atau baik fisik maupun psikisnya. Pada usia remaja mereka menganggap dirinya bukan anak-anak lagi. Dalam rangka menghadapi luapan emosi remaja, sebaiknya ditangani dengan sikap yang tenang dan santai. Orang tua dan pendidik harus bersikap tenang, bersuasana hati baik dan penuh pengertian. Orang tua dan pendidik sedapat mungkin tidak memperlihatkan kegelisahannya maupun ikut terbawa emosinya dalam menghadapi emosi remaja.
     Dengan singkat dapat dikatakan bahwa untuk mengurangi luapan emosi peserta didik perlu dihindari larangan yang tidak terlalu penting. Mengurangi pembatasan dan tututan terhadap remaja harus disesuaikan dengan kemampuan mereka. Sebaiknya memberi tugas yang dapat diselesaikan dan jangan memberi tugas dan peraturan yang tidak mungkin dilakukan.


II.      Rumusan Masalah
      Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah diantaranya sebagai berikut:
1.      Bagaimana Implikasi Faktor Fisik terhadap Penyelenggaraan Pendidikan?
2.      Bagaimana Implikasi Faktor Intelek terhadap Penyelenggaraan Pendidikan?
3.      Bagaimana Implikasi Faktor Bakat Khusus terhadap Penyelenggaraan Pendidikan?
4.      Bagaimana Implikasi Faktor Sosial-Kultural terhadap Penyelenggaraan Pendidikan?
5.      Bagaimana Implikasi Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik terhadap Penyelenggaraan Pendidikan?


III.   Tujuan
     Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1.      Implikasi Faktor Fisik terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
2.      Implikasi Faktor Intelek terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
3.      Implikasi Faktor Bakat Khusus terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
4.      Implikasi Faktor Sosial-Kultural terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
5.      Implikasi Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik terhadap Penyelenggaraan Pendidikan


IV.   Manfaat Makalah
1.      Secara Teoretis
Makalah ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan memperluas pengetahuan tentang implikasi perkembangan dan pertumbuhan terhadap pendidikan, serta dapat dijadikan secara ilmiah untuk membandingkan antara ilmu yang dipelajari di bangku perkuliahan dengan kenyataan di lapangan.
2.      Secara Praktis
Makalah ini diharapkan bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan informasi sesuai dengan makalah ini dan dapat dijadikan acuan dalam pembelajaran maupun di masyarakat.



BAB II
PEMBAHASAN

I.          PERTUMBUHAN FISIK PESERTA DIDIK
Pertumbuhan fisik peserta didik adalah Perubahan fisiologis yang bersifat progresif dan kontinu serta berlangsung dalam periode tertentu
a.     Karakteristik
1.        Umum
Berkembangnya organ dan kelenjar, perubahan emosi
2.        Wanita
Menstruasi, timbulnya jerawat, lekuk tubuh
3.        Pria
Mimpi basah, suara parau, pertumbuhan tinggi yang cepat
b.      Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik :
1.      Pengaruh Keluarga
Pengaruh keluarga meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan.
-          Faktor keturunan
fisik yang sama dengan salah satu anggota keluarga
-          Faktor lingkungan
pergaulan, kesamaan tingkah laku dengan salah satu anggota keluarga

2.      Pengaruh Gizi
Jumlah gizi yang diberikan, berpengaruh pada cepatnya pertumbuhan fisik anak.

3.      Gangguan Emosional
Jika anak sering mangalami gangguan emosional, pertumbuhan awal  remajanya akan terhambat.

4.      Jenis Kelamin
Berbedanya bentuk tulang dan otot pada anak laki – laki dan perempuan, berpengaruh terhadap perbedaan berat dan tinggi.

5.      Status Sosial Ekonomi
Kemampuan ekonomi keluarga dalam mencukupi kebutuhan primer anak, berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik anak.
Ex : anak dari keluarga yang status ekonominya rendah, cenderung lebih kecil daripada anak yang berasal dari keluarga yang status ekonominya tinggi

6.      Kesehatan
Kurangnya perawatan kesehatan akan menyebabkan anak mudah terserang penyakit, anak yang jarang sakit biasanya akan memiliki tubuh yang lebih berat daripada anak yang sering sakit – sakitan.

7.      Pengaruh Bentuk Tubuh
Mesamorf : kekar, berat
Ektomorf : kurus, bertulang panjang
Endomorf : gemuk, berat
Bentuk – bentuk tubuh diatas mempengaruhi besar kecilnya tubuh anak.

c.        Faktor – faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skills anak :
1.      Pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf
Berkaitan dengan tumbuh kembang kecerdasan ( meningkatnya kecerdasan dan berubahnya tingkah laku )

2.      Pertumbuhan otot – otot
Peningkatan kemampuan dan kekuatan jasmani ( dalam menciptakan sesuatu, misalnya kerajinan tangan, akan semakin meningkat kualitasnya dari masa ke masa )

3.      Perkembangan dan pertumbuhan fungsi kelenjar endokrin
Mempengaruhi pola sikap dan tingkah laku terhadap lawan jenis ( menarik perhatian lawan jenis, berubahnya gaya / penampilan )

4.      Perubahan struktur jasmani
Berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan dan kecakapan motor skills anak.
Mengubah konsep diri anak tersebut.
( Bertambanya ukuran tinggi / berat badan. Perubahan sikap dan perilaku terhadap orang lain. )

II.          PERKEMBANGAN INTELEK PESERTA DIDIK
Perkembangan Intelektual/kognitif adalah proses yang didalamnya melibatkan proses memperoleh, menyusun, mengunakan pengetahuan, serta keguatan mental seperti berpikir, mengamati, mengingat, menganalisis, mengevaluasi, memecahkan persoalan dengan berinteraksi dengan lingkungan.
Intelek adalah kekuatan mental yang menyebabkan manusia dapat berpikir aktivitas yang berkenaan dengan proses berpikir.
Intelegensi adalah kemampuan yang diperoleh melalui keturunan dan tidak banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam batas-batas tertentu, lingkungan turut berperan dalam pembentukan intelegensi.
Hubungan antara intelek dengan tingkah laku
Kemampuan berpikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang pada kejadian dan peristiwa yang tidak konkrit, seperti pilihan pekerjaan, corak hidup bermasyarakat, pilihan pasangan hidup yang sebenarnya masih jauh di depannya, dan lain-lain. Bagi remaja, corak perilaku pribadinya di hari depan dan corak tingkah lakunya sekarang akan berbeda. Kemampuan abstraksi akan berperan dalam perkembangan kepribadiannya. Mereka dapat memikirkan prihal itu sendiri. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengalah ke penilaian tentang dirinya tidak selalu diketahui orang lain bahkan sering terlihat usaha seseorang untuk menyembunyikan atau merahasiakannya. Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang menyebabkan sikapkritis terhadap situasi dan orang tua. Setiap pendapat orang tua dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkan. Sikap kritis ini juga ditunjukkan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga tata cara, adat istiadat yang berlaku di lingkungan keluarga sering terjadi adanya pertentangan dengan sikap kritis yang tampak pada perilakunya. Selain itu egosentrisme masih terlihat pada pikiran remaja. Cita-cita dan idealism terlalu menitikberatkan pada pikiran sendiri tanpa memperdulikan orang lain.  Egosentrisme menyebabkan kekakuan para remaja dalam berpikir dan bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja adalah banyak berhubungan dengan pertumbuhan fisik yang dirasakan mencekam dirinya, karena menyangka orang lain berpikiran sama dan ikut tidak puas dengan penampilannya. Hal ini menimbulkan perasaan seolah-olah selalu diamati orang lain, perasaan malu dan membatasi gerak-geriknya. Akibat dari hal ini akan terlihat pada tingkah laku yang kaku.. Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, maka egosentrisme makin berkurang. Pada akhir masa remaja, pengaruh egosentrisme sudah sedemikian kecilnya, sehingga remaja sudah dapat berpikir abstrak dengan mengikutsertakan pendapat dan pandangan orang lain.
Karakteristik
Intelegensi pada masa remaja tidak mudah diukur, karena tidak mudah terlihat perubahan kecepatan perkembangan kemampuan tersebut. Pada umumnya umur tiga sampai empat tahun pertama menunjukkan perkembangan kemampuan yang hebat, selanjutnya akan terjadi perkembangan yang teratur. Pada masa remaja kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk bertambah. Pada awal masa remaja, kira-kira pada umur 12 tahun, anak berada pada masa yang disebut masa operasi formal (berpikir abstrak). Pada masa ini remaja telah berpikir dengan mempertimbangkan hal yang “mungkin“ di samping hal yang “nyata” (Gleitman, 1986).
Berpikir operasional-formal memiliki dua sifat yang penting, yaitu:
1.       Sifat deduktif – hipotesis. Dalam menyelesaikan suatu masalah, seorang remaja akan mengawalinya dengan berpikir teoritik. Ia menganalisis masalah dan mengajukan cara penyelesaian hipotesis. Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berpikir induktif di samping deduktif. Oleh sebab itu, sifat berpikir ini sebenarnya mencakup deduktif – induktif – hipotesis.
2.      .Berpikir operasional juga berpikir kombinatoris. Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara bagaimana melakukan analisis. Anak berpikir operasional formal terlebih dahulu secara teoritik membuat matrik mengenai macam-macam kombinasi yang mungkin, kemudian secara sistematik mencoba mengisi sel matriks tersebut secara empiric
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek
1.      Faktor Herederitas
Sejak dalam  kandungan, anak telah memiliki sifat-sifat yang menentukan daya kerja intelektualnya. Secara potensial anak telah membawa kemungkinan apakah akan menjadi kemampuan berpikir setaraf normal, dibawah normal, atau diatas normal. Namun pengaruh lingkungan sangat menentukan perkembangan intelektual anak.
2.      Faktor Lingkungan
a.       Keluarga
Adalah faktor yang paling penting dimana pihak keluarga khususnya orang tua harus memberikan informasi dan pengalaman sehingga anak dapat memiliki berbagai kemampuan dan cara berpikir yang cepat.
b.      Sekolah
Adalah lembaga formal yang bertanggung jawab meningkatkan perkembangan anak

III.    PERKEMBANGAN BAKAT KHUSUS PESERTA DIDIK REMAJA (USIA SEKOLAH MENEGAH)
Perbedaan Individu juga bergantung pada tingkat kemampuan / prestasi.
Bakat adalah bawaan sejak lahir.
1.    Pengertian Bakat
Sifat yang dianggap sebagai kemampuan individu untuk menerima latihan / respon seperti bahasa,  musik, dll.
2.    Jenis Bakat Khusus
      Setiap individu memiliki bakat khusus yang berbeda.
      Usaha pengenalan bakat mula-mula terjadi pada bidang pekerjaan, kemudian pada bidang pendidikan.
      Pemberian nama terhadap jenis-jenis bakat khusus biasanya dilakukan bidang apa bakat tersebut berfungsi (matematika, seni, musik, dll).
      Bakat khusus bergantug pada kebudayaan tempat seorang individu di besarkan.
      Faktor linkungan sangat berpengaruh.
3.      Hubungan Bakat dan Prestasi
      Dengan adanya bakat, seseorang dapat mencapai prestasi dalam bidang tertentu.
      Bakat yang tersalurkan + orangtua menyadari dan berupaya agar  anak mendapatkan pengalamanyang baik untuk pengembangan bakatnya + minat dari anak yang bersangkutan =  prestasi yang unggul
4.      Faktor  Yang Mempengaruhi Perkembangan  Bakat
       Anak itu sendiri   : misal, anak kurang berminat, kurang termotivasi, mempunyai, hambatan pribadi
      Lingkungan anak  : orang tua kurang mampu menyediakan sarana dan kesempatan

5.      Pendidikan Anak Berbakat di Indonesia
       Kurikulum yang terpusat  (secara umum sama di seluruh NKRI)  --> mulai dari TK, SD, SLTP, SLTA. Sehingga bersifat terbatas.
       Pendidika anak berbakat serupa dengan pendidikan pada umumnya, hanya saja jika dilihat dari sistem pengajaran meliputi program, fasilitas, guru, masukan, dan tujuan.
5. a. Pengertian anak berbakat
      Adalah anak yang mempunyai potensi unggul di atas potensi yang dimiliki oleh anak-anak normal. Sementara itu, kepribadian merupakan sumbangan yang dapat di berikan oleh anak / orang berbakat. Dengan dasaar keribadian yang baik akan lahir karya yang baik pula.
5. b. Karakteristik anak berbakat
      Ada bnyak faktor yang mempengaruhi karakteristik / watak dari anak berbakat, diantaranya : pertumbuhan dan perkembangan, budaya, agama.
      Untuk mengenali karakteristik bisa di lihat dari beberapa segi:
1. Potensi
2. Cara menghadapi masalah
3. Prestasi
5. c. Menangani anak berbakat
      Membiarkan anak berkembang sendiri akan mengakibatkan perkembangan tidak sempurna dan bakat yang sebetulnya dimiliki menjadi tidak berfungsi. Dalam upayanya ada beberapa faktor yang perlu di perhatikan agar mencapai hasil yang di harapkan.
1. Faktor yang ada pada anak itu sendiri.
2. Faktor kurikulum yang meliputi.
5. d. Pelaksanaan pendidikan anak berbakat
1. Meloncatkan anak pada kelas yang lebih tinggi
2. Pendidikan dalam kelas khusus
3. Kegiatan dalam implementasi kurikulum bidang studi tetentu
4. Metode belajar dan guru
6.      Implikasi Pengembangan Bakat Khusus Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
      Dalam suasana yang aman secara psikologis, anak akan merasa nyaman untuk mengungkapkan dan mengekspresikan bakatnya.
      Pendidikan hendaknya berfungsi sebagai media pangembangan dan pembinaan bakat anak.
      Pengenalan bakat dan upaya pengembangannya membantu remaja untuk menentukan pilihan yang tepat dan menyaiapkan dirinya untukmacapai tujuan dan karier kehidupannya.



IV.    PERKEMBANGAN HUBUNGAN SOSIAL PESERTA DIDIK USIA SEKOLAH MENENGAH (REMAJA)

1.    Pengertian Hubungan Sosial
Teori psikologi telah mengungkapkan bahwa manusia tumbuh dan berkembang dari
masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah, tahapan, dan jenjang. Kehidupan anak pada dasarnya merupakan kemampuan berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sosial budayanya.
            Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa berhubungan dengan manusia lainnya dalam masyarakat. Sosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap kehidupan sosial. Dengan demikian jelaslah bahwa hubungan sosial merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan, baik dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, sampai orang tua.

2.    Karakteristik Perkembangan Remaja
Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan, remaja mulai memerhatikan berbagai
nilai dan norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku di keluarganya. Ia mulai memahami nilai dan norma pergaulan dalam kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok orang dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok, baik kelompok kecil maupun kelompok besar. Penetapan pilihan kelompok yang diikuti didasari oleh berbagai pertimbangan seperti, moral, ekonomi, minat, kesamaan bakat dan kemampuan.
            Nilai positif dalam kehidupan kelompok adalah tiap-tiap anggota belajar berorganisasi, memilih pemimpin, dan mematuhi peraturan kelompok. Penyesuaian diri dalam kelompok kecil yang terdiri dari pasangan remaja berbeda jenis tetap menjadi permasalahan yang cukup berat. Dalam hal ini kemampuan intelektual dan emosional mempunyai pengaruh yang kuat.

3.    Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain keluarga, status
sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental, terutama emosi dan intelegensi.

  1. Faktor Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang memberikan banyak
pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan sosial anak. Keluarga merupakan
media sosialisasi yang paling efektif bagi anak.
  1. Kematangan
Proses sosialisasi tentu saja memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk
memberi dan menerima pandangan atau pendapat orang lain diperlukan kematangan
intelektual dan emosional.
  1. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial dipengaruhi pula oleh kondisi atau status sosial ekonomi keluarga.
  1. Pendidikan
Pendidikan merupakan media sosialisasi yang terarah bagi anak. Pendidikan akan memberikan warna terhadap kehidupan sosial anak di masa yang akan datang.
  1. Kapasitas Mental : Emosi dan Intelegensi
Kapasitas emosi dan kemampuan berpikir mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, berbahasa, dan menyesuaikan diri terhadap kehidupan di masyarakat.

4.    Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
Dalam perkembangan sosial, para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah pada penilaian diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain.

5.    Mengembangkan Keterampilan Sosial pada Remaja
Sebagai makhluk sosial, remaja dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku.
Keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting dan krusial manakala anak sudah menginjak masa remaja. Hal ini disebabkan pada masa remaja, ia sudah memasuki dunia pergaulan yang masih luas yang pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan.
Berdasarkan kondisi tersebut amatlah penting bagi remaja untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial dan kemampuan untuk menyesuaikan diri.
Dalam kehidupan remaja terdapat delapan aspek yang menuntut keterampilan sosial (social skills), yaitu :
a.       Keluarga
b.      Lingkungan
c.       Kepribadian
d.      Rekreasi
e.       Pergaulan dengan lawan jenis
f.       Pendidikan
g.      Persahabatan dan solidaritas kelompok
h.      Lapangan kerja

6.    Implikasi Pengembangan Hubungan Sosial Remaja terhadap penyelenggaraan pendidikan
Masa remajamerupakan masa mencari jati diri sehingga ia memiliki sikap yang terlalu tinggi dalam menilai dirinya atau sebaliknya.
Pola kehidupan remaja yang berbeda dengan kelompok dewasa dan kelompok anak-anak dapat menimbulkan konflik sosial. Di sekolah perlu sering diadakan kegiatan bakti sosial, kelompok belajar, dan kegiatan-kegiatan lainnya di bawah asuhan guru pembimbing.


BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

I.         Simpulan
      Di tinjau dari segi pendidikan, potensi setiap peserta didik harus dipupuk dan dikembangkan. Peserta didik akan merasa aman secara psikologis apabila pendidik dapat menerima peserta didik dalam kondisi apapun. Pendidik mengusahakan suasana dimana peserta didik tidak bisa dinilai oleh orang lain, dan tugas pendidik ialah memberikan pengertian kepada para peserta didik yang membutuhkannya.
       Dalam penyelenggaraan pendidikan perlu diperhatikan sarana dan prasarana. Disamping itu perkembangan emosi peserta didik sangat erat kaitannya dengan faktor-faktor tertentu. Sekolah merupakan titik tolak dasar untuk pengembangan hubungan sosial peserta didik, para peserta didik juga harus bisa saling menghargai antara yang satu dengan lainnya dan sekolah sebaiknya memberikan pola pengajaran yang demokratis kepada para peserta didik. Kita sebagai individu yang sedang tumbuh dan berkembang, maka dari itu proses pertumbuhan dan perkembangan peserta didik sangat di pengaruhi oleh adanya interaksi antara dua faktor yang sama-sama berperan penting.

II.      Saran
Diharapkan pendidikan bagi peserta didik dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang kita inginkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar